Hingga saat ini tahun 2016, Indonesia memiliki potensi industri kreatif digital yang sangat menggembirakan, salah satunya film, musik, animasi dan game. Jika dibanding industri kreatif di bidang Film, Musik, dan Game, Animasi yang paling tertinggal jauh. Untuk musik dan film, kita sudah meretas penayangannya ke negara lain, kecuali film animasi yang benar-benar dibuat industri putra bangsa. Namun kedepan, Indonesia memiliki potensi industri kreatif animasi yang sangat menjanjikan sekali.
Meskipun 'katanya' negeri tercinta kita ini sebenarnya memiliki segudang animator yang handal dan telah menghasilkan karya-karya yang mumpuni, namun pada kenyataannya kita sebagai masyarakat awam samasekali belum pernah merasakan yang namanya "menyaksikan kualitas film karya anak negeri yang layak tonton".
Siapa yang tak kenal dengan film animasi buatan luar negeri yang sering ditayangkan di TV nasional seperti Doraemon, Upin Ipin atau Shaun The Sheep. Di Indonesia, ketiga film itu sempat mendulang popularitas. Lalu kenapa film animasi Indonesia kalah populer.
Insan perfilman animasi Indonesia harusnya sudah berfikir membuat film animasi yang berkualitas dan kompetitif jika ingin mampu bersaing dalam menghadapi gempuran film-film dari luar negeri yang kualitasnya sudah tidak diragukan lagi. Harusnya insan perfilman animasi Indonesia tidak hanya "sekedar" membuat film animasi apalagi sampai "asal" membuat film animasi karena setahuku, biaya pembuatan film animasi itu tidak murah, akan sangat disayangkan jika hasilnya tidak memuaskan.
Ada perspesi lain lagi, begini : karena animator di indonesia hanya mendapatkan gaji yang sangat kecil dibandingkan animator2 di Jepang dan di Amerika karena tugas animator di indonesia cuman dipandang sebelah mata di tambah lagi presepsi orang2 kita yg selalu menganggap serial animasi hanya untuk anak-anak.
Namun kita sangat optimis produk animasi buatan Indonesia bisa bersaing dengan asing. Walaupun ada persepsi karya animasi yang dibuat di industri ini belum dihargai sepenuhnya. Bayangkan saja, dengan modal produksi sekitar 100 jutaan, hanya dihargai 10 juta, ya dengan modal 10 juta oleh pihak TV bisa menayangkan film tersebut. Apalagi ditambah image Animasi Belum dipandang secara serius oleh semua pihak sebagai Media Promosi Kebudayaan dan Kebangsaan. Atau bisa saja ini dikarenakan terbatasnya Pemahaman Bisnis Para Pelaku Industri Animasi iyu sendiri. Inilah yang menyebabkan banyak karya animasi luar yang ditayangkan di TV dibandingkan hasil karya anak bangsa sendiri.
Ok, kedepan kita akan bahas bersama solusi jitu dari tokoh sukses animator dunia agar animasi indonesia dapat berkembang maju. Penasaran?

No comments:
Post a Comment